Download Tabloid Mengapa Harus Anies

Aroma persaingan pilpres 2024 kian panas. Sudah dimulai sejak saat ini. Intrik dan manuver politik mulai menyeruak ke permukaan. Salah satunya adalah beredarnya sebuah majalah tabolid dengan judul “mengapa harus Anies”.

Tablid ini dibagikan kepada masyarakat yang sedang salat jumat. Isi tabloid mengapa harus anies ini tentu saja narasi yang menulis tentang prestasi dan kelebihan anies baswedan yang dianggap paling pantas menjadi presiden 2024.

Nah tentu banyak yang penasaran tentang isi dari tabloid mengapa harus anies ini bukan. Oleh karena itu, kita bisa mendownload tabloid atau majalah ini disini secara langsung baik dalam format pdf dll.

Tabloid berisikan kiprah dan kesuksesan Anies Baswedan disebar di Kota Malang, Jawa Timur. Siapa dalang penyebar tabloid di masjid hingga pasar itu masih menjadi misteri.
Tabloid Anies itu seketika ramai diperbincangkan usai dibagikan kepada jemaah Masjid Al Amin di Malang pada 16 September 2022 lalu. Tabloid bernama KBAnewspaper itu berisikan 12 halaman dan merupakan edisi cetak 28 Februari 2022.

Cover tabloid itu memajang foto Anies dengan judul ‘MENGAPA HARUS ANIES?’. Seluruh isi kontennya mengulas soal Anies Baswedan.

Di boks redaksi tabloid tersebut, tertera nama Ramadhan Pohan sebagai Founder/CEO. Namun, tidak ada alamat jelas di mana kantor tabloid itu.

Takmir Masjid Tak Tahu Penyebar Tabloid

Ketua Takmir Masjid Al Amin, Sugeng Riyadi, mengaku tidak tahu siapa penyebar tabloid itu. Dia juga mengaku tidak mengetahui adanya kegiatan pembagian tabloid yang mengulas kesuksesan Gubernur DKI Jakarta itu.

Keterangan yang disampaikan takmir masjid di Jalan Pelabuhan Tanjung Perak, Kota Malang, itu semakin mengundang tanya. Ada dugaan tabloid diselundupkan oleh seseorang atau sekelompok orang.

Takmir Masjid Al Amin pun merasa kecolongan dengan adanya penyebaran tabloid bertajuk ‘MENGAPA HARUS ANIES?’ tersebut. Mereka akan menggali informasi kepada seluruh jemaah guna menemukan siapa yang membawa tabloid ke area masjid.

“Kami akan cari informasi ke jemaah. Karena tidak seizin takmir dan itu ilegal,” tegas Sugeng.

Suroso, salah satu warga saat itu ikut salat Jumat menuturkan bahwa semua jemaah saat itu mendapatkan tabloid Anies itu. Pria yang sehari-seharinya membuka bengkel dekat Masjid Al Amin itu pun kesal mengapa ada pembagian tabloid seperti itu kepada jemaah.

“Iya dibagikan, semua hampir dapat. Saya langsung bawa saja tidak baca isinya. Gitu kan bisa membuat kekacauan di masyarakat,” kesalnya.

Tabloid Anies Juga Disebar di Pasar

Ternyata, tabloid dengan judul ‘MENGAPA HARUS ANIES?’ itu tidak hanya disebar di masjid di Malang. Tabloid itu juga diedarkan di pasar tradisional, Kota Malang.

Beberapa pedagang mengaku ada seorang pria yang membagikan tabloid berisikan kesuksesanĀ AniesĀ itu. Namun, mereka tidak tahu siapa pria tersebut.

“Ini (tabloid) dikasih dua minggu yang lalu. Saya nggak kenal orangnya, datang dikasih, terus pergi,” ujar Dina, salah seorang pedagang di Pasar Klojen, Kota Malang, seperti dilansir detikJatim, Rabu (21/9/2022).

Dina mengatakan penyebar tabloid adalah seorang bapak-bapak. Pria tersebut tiba-tiba mendatangi lapak dagangannya kemudian memberikan tabloid itu.

“Tiba-tiba datang, hanya dikasih dan bilang terima kasih,” terang Dina.

Relawan Pastikan Bukan Instruksi Anies

Relawan Konfederasi Relawan Anies (KoReAn) menyayangkan ada kegiatan politik di tempat ibadah. Ketum KoReAn Ramli Rahim pun memastikan tidak ada instruksi dari Anies untuk menyebarkan tabloid tersebut.

“Setahu saya banyak orang yang minta tabloid itu. Mereka sendiri yang berinisiatif membagi. Bahkan setahu saya, ada yang hanya dapat file, lalu cetak sendiri. Ini gerakan arus bawah, pengamatan saya. Bukan hanya tabloid, tapi stiker, spanduk, masyarakat buat sendiri,” kata Ramli kepada wartawan, Selasa (20/9/2022).

Ramli mengatakan ada relawan yang bergerak secara struktur dan tidak. Menurutnya, yang dilakukan para relawan merupakan bentuk dukungan terhadap Anies Baswedan. Ramli tidak curiga aksi bagi-bagi tabloid itu dilakukan oleh lawan politik Anies.

“Kami pimpinan relawan Anies itu lebih banyak berpikir positif dibanding berpikir negatif. Jadi kami tak curiga bahwa itu dari pihak yang kurang senang atau tidak mendukung Anies,” ucapnya.

Wali Kota Malang Geram

Wali Kota Malang, Sutiaji, geram dengan pembagian tabloid yang mengulas tentang Anies itu. Sebab, menurutnya isi tabloid itu sarat akan kepentingan politik.

“Jangan membawa dan menarik-narik urusan berbau politik ke tempat ibadah. Walaupun domainnya itu domainnya ibadah masing-masing,” tegas Sutiaji.

Sutiaji khawatir tabloid itu memicu persoalan atau kekacauan di tengah umat. Sebab, tabloid itu disebarkan di tempat ibadah. Dia pun akan mengeluarkan edaran untuk DMI Kota Malang agar kejadian serupa tak terulang kembali.

DMI: Tabloid Anies Masih dalam Koridor UU

Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah angkat bicara mengenai penyebaran tabloid Anies di masjid. DMI mengingatkan agar tempat ibadah mengutamakan keutuhan umat.

“DMI sendiri, sebagaimana pada pra-pemilu yang lalu, akan mengeluarkan Edaran terkait netralisasi masjid atau musala sebagai tempat ibadah dan berkumpulnya jemaah inklusif dengan berbagai latar belakang, premordial, budaya, paham keagamaan, adat istiadat dan sebagainya sehingga masjid tetap mengutamakan keutuhan umat, masyarakat, dan bangsa,” kata Sekjen DMI Imam Addaruqutni dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/9/2022).

Imam menyebut masjid harus bersih dari atribut-atribut politik. Dia mengatakan masjid juga harus steril dari penggiringan aspirasi politik tertentu.

Dia mengaku belum membaca dan tidak memiliki tabloid seperti yang beredar di Masjid Al Amin, Kota Malang. Namun, katanya, masyarakat memang berhak menyuarakan kebaikan tokoh yang dianggap sebagai teladan.

Imam juga mengatakan saat ini belum masuk masa kampanye Pemilu 2024. Menurutnya, tabloid yang berisi informasi tentang Anies di masjid itu masih dalam koridor perundang-undangan.

“Pemberitaan fokus tentang Anies Baswedan, sejauh jika tidak berkait dengan kampanye dan saat ini memang belum memasuki masa kampanye politik dalam rangka power struggle atau perjuangan memenangkan suara rakyat dalam Pemilu, saya rasa masih dalam koridor kaidah Undang-Undang Pers atau aturan perundang-undangan lainnya,” ujarnya.